SEBAGIAN CERITA TENTANG RATU FARAH DIBA
dari IRAN
"Zedeh va Paadeh Bad Aalahazrata Homyoon Mohammad Reza Pahlevi Aryamehr Shahanshahe Iran!" *** TERIAKAN "panjang umur" buat Shah Iran itu segera disusul dengan teriakan buat Ratu Farah, dan laki-laki itu mencucurkan airmatanya. Ia dokter berkebangsaan Iran yang sudah 4 tahun berpisah dari tanahairnya karena bertugas di Indonesia. Kedatangan Shah dan ratu Farah di Halim minggu lalu itu tentu mengharukannya -- sebagaimana ia juga mengharukan banyak warga-negara Iran di sini yang terutama adalah orang-orang kedutaan. Bagi banyak orang Indonesia, kunjungan itu tak menimbulkan sensasi khusus. Tentu saja ada rasa tertarik dan sedikit terhomat sebagaimana setiap kali Indonesia dapat kunjungan resmi seorang raja. Apalagi Shah Iran serta ratu Farah memang pasangan elok, yang kisahnya sampai juga di Indonesia liwat bacaan populer. Di antara para penyambut masih banyak yang terkenang akan kisah perceraian Shah dari Soraya (yang kemudian jadi bintang film -- dan gagal) serta perkawinannya kembali dengan seorang gadis 20 tahun lebih muda yang bernama "Farah Diba", yang model rambutnya pernah menular ke mari. Kedutaan Besar Iran di Jakarta karenanya secara spesial memperingatkan agar orang-orang Indonesia jangan sampai keliru memanggil Ratu (36 tahun) sebab ia bukan Farah Diba lagi. Dan Shah pun (55 tahun) bukan lagi pemegang takhta yang bisa dianggap cuma unsur dekorasi. Aktif sendiri melancarkan apa yang disebut "Revolusi Putih" 10 tahun yang lalu, Shah berhasil menampilkan perbaikan sosial ekonomi negaranya. Kini, dengan makin pentingnya peranan minyak dalam ekonomi dan politik dunia, Iran sebagian negara OPEC ke-2 dalam jumlah produksi minyak, memasuki tahap diplomasi yang lebih menonjol. Teheran yang kini membeli saham yang cukup penting di perusahaan Krupp -- lambang jiwa Jerman itu -- ikut dalam ICCS di Vietnam, di mana pasukan Iran bergaul dengan pasukan Indonesia. Teheran juga jadi tuan rumah Asian Games. Maka di Jakarta Shah dan Ratu dijamu hangat oleh Presiden Soeharto dan nyonya, -- di Istana yang dihias dengan suasana Merak: Persia. Kemudian kedua pemimpin itu mengeluarkan komunike bersama tentang perdamaian dunia. Tapi Shah, yang di Jakarta cuma 18 jam, sebenarnya sedang dalam semacam "perang'. Sebelumnya, di akhir kunjungan di Australia selama 8 hari, ia menembakkan kata-katanya kepada Presiden Ford. Presiden AS itu di PBB mengecam digunakamya minyak sebagai senjata politik untuk menekan negara-negara lain -- suatu kecaman yang dianggap tidak adil oleh Shah. Dalam suasana "perang minyak internasional" kini, di mana Indonesia bisa terbawa, bagus juga bahwa di Jakarta Shah dan Ratu disambut dengan senyum. Dan membalas. http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1974/10/12/NAS/mbm.19741012.NAS65519.id.html



0 komentar:
Posting Komentar